Hotteok dan Bakpia, Bak Sodara yang Terpisah Negara

Jika dilihat sekilas, Hotteok dan Bakpia benar-benar berbeda. Bukan hanya dari asalnya, tetapi dari penampakan secara fisik. Hotteok berbentuk bulat tipis-pipih, sementara Bakpia berbentuk bulat, seperti tabung pendek. Kedua makanan ini benar-benar berbeda dari luar, jadi sodara dari mananya nih?

Memang kalau dilihat dari luar, kedua makanan ini seakan tidak memiliki persamaan. Dari bentuk, rasa, tekstur, hingga penyajiannya. Hotteok merupakan jajanan pinggir jalan (street food) asal Korea yang dimakan langsung ketika hangat saat musim dingin tiba. Sementara Bakpia asal Yogyakarta dan Surakarta, disajikan ketika sudah dingin dan dibungkus dalam boks-boks kecil untuk oleh-oleh atau dimakan sendiri. 

Tetapi jika dilihat dari bahan pembuatan dan sejarahnya, ada kesamaan antara kedua makanan ini, bund.

Pengaruh Dari China

The Jakarta Post menuliskan dalam salah satu artikelnya bahwa Bakpia mendapatkan pengaruh dari China. Awal diperkenalkan sekitar abad ke-20, Bakpia berasal dari bahasa Hokkien yang berarti kue (cake) dengan daging sebagai filling

Seiring bertambah populernya Bakpia, pada 1940 produsen Kwik Sun Kwok, mengubah isian Bakpia yang tadinya asin menjadi manis. Yang tadinya berisi daging babi, menjadi kacang hijau. Sehingga komunitas muslim pada saat itu juga bisa menikmati Bakpia hingga sekarang.  

Hotteok ternyata juga memiliki sejarah yang hampir sama, bund. Asal Hotteok dipercaya berasal dari pedagang China yang berimigrasi ke Korea pada akhir abad ke-19. Tidak seperti Chinese pancakes, yang memiliki isian daging yang gurih, Hotteok ini manis, untuk menyesuaikan selera orang Korea. 

Uh, menarik!

Bahan dan Cara Pembuatan

Bukan hanya mendapatkan pengaruh yang sama, bahan pembuatannya pun hampir sama. Kedua makanan manis ini memakai tepung terigu, air, gula, dan minyak untuk dough. Ada beberapa resep yang menambahkan ragi juga. 

Karena menggunakan ragi, dough harus diistirahatkan kurang lebih satu jam sebelum dibentuk dan diberikan isi. 

Untuk Hotteok, dough bisa langsung diberikan isian, berupa campuran brown sugar, bubuk kayu manis, dan kacang-kacangan yang telah dicincang. Isian yang telah siap ini, kemudian dimasukkan ke tengah adonan lalu dibungkus dengan pinggiran dough agar tidak tumpah. 

Dough yang berisi filling itu kemudian dimasak pada teflon dengan sedikit minyak. Apabila bagian bawah sudah berubah warna menjadi cokelat keemasan, balik dan tekan dough dengan spatula hingga tipis-pipih. Nikmati selagi hangat ya bund. 

Sementara untuk Bakpia, bagian yang agak ribet ialah isi (filling). Kita harus menyiapkan kacang hijau tanpa kulit, merebusnya, mendinginkannya lalu menghaluskannya dengan blender atau ulekan. Kemudian masak dengan menambahkan gula dan sedikit garam. Masak hingga bahan tercampur sempurna lalu dinginkan.

Kemudian ambil sedikit bagian dari dough, bentuk bulat dengan tangan lalu giling hingga benar-benar tipis. Masukkan isian kacang hijau tersebut. Dengan catatan, isian tersebut telah dibentuk bulat seperti tabung. Taruh isian pada tengah dough dan tutupi dengan dough yang tersisa.

Setelah itu kamu bisa memanggangnya dalam oven, atau masak dalam teflon anti lengket tanpa minyak. Angkat apabila telah berwarna cokelat-keemasan ya bund. 

Coba yuk di rumah bund!


Sumber: The Jakarta Post, Wikipedia

Sumber foto: IDN Times, Gute Kueche, Wanderer but not lost

Comments